Konferensi Inovasi Data bagi Pembuat Kebijakan 2014 5

Waktu untuk Mengenal Big Data Sebagai Instrumen Baru bagi Demokrasi. Mellyana Frederika untuk Konferensi Inovasi Data bagi Pembuat Kebijakan 2014.

Konferensi Inovasi Data bagi Pembuat Kebijakan 2014 5

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), bekerja sama dengan Pulse Lab Jakarta, Knowledge Sector Initiative dan UNDP Innovation Facility menyelenggarakan konferensi internasional mengenai Inovasi Data untuk Pembuat Kebijakan di Bali pada tanggal 26 dan 27 November 2014. Dua hari yang penuh kegembiraan! Para ahli teknologi  bertemu dengan pegawai negeri, praktisi pembangunan internasional berinteraksi dengan para aktivis lokal dan perwakilan sektor swasta duduk bersama dengan pejabat pemerintah. Semua orang membicarakan data besar dan teknik analisis real-time untuk merencanakan, memantau dan mengevaluasi kebijakan dan program pembangunan sosial.
Berikut adalah pesan kunci yang disorot selama hari pertama:

  • Tidak ada lagi pencuri data: Banyak peneliti berjuang untuk mendapatkan akses ke data. Hal ini khususnya terjadi di Indonesia. Pelajaran yang diperoleh adalah data disimpan dan dikelola oleh lembaga-lembaga publik dapat dibuat lebih mudah diakses oleh para peneliti dan masyarakat. Indonesia sedang bergerak menuju arah ini dan Menteri Andrinof menyoroti peran Indonesia sebagai salah satu negara pendiri yang mendirikan Open Government Partnership.
  • Data real time dapat menyelamatkan nyawa manusia: Di Indonesia, setiap tahun ratusan orang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas selama musim liburan. Jumlahnya setara dengan empat pesawat penuh. Hal ini dapat dan harus dihindari dan data dapat membantu. Data yang mendekati real-time bisa memperingatkan orang, dan pada saat yang sama membantu polisi memberikan respon saat kecelakaan terjadi. Sejalan dengan analisis data real-time semakin menjadi sebuah kenyataan, langkah berikutnya adalah untuk menemukan cara untuk menggunakan pengetahuan yang dihasilkan melalui analisis. Sebagai contoh, analisis data real-time memungkinkan pembuat kebijakan untuk merespon keadaan darurat dan bencana dengan cepat, dan ini menguntungkan warga negara.
  • Suara warga negara dapat didengar melalui data: Dari India ke Indonesia, kota-kota dan masyarakat pedesaan semua berbagi kebutuhan dasar yang sama: warga negara ingin suara mereka didengar oleh pembuat keputusan. Chief Data Scientist yang pertama di Singapura hadir di konferensi dan menggambarkan peran timnya dalam menganalisis rangkaian data seluruh lembaga yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup  warga negara. Contoh lain yang ditunjukkan di konferensi bahwa media sosial adalah saluran yang tumbuh cepat untuk keterlibatan warga negara di tingkat akar rumput. Pesannya adalah: jika pemerintah mencari masukan dari warga negara melalui media sosial dan inovasi  data, warga negara turun tangan dan berkontribusi.
  • Temukan sesuatu yang baru: Perdebatan tentang data bergerak ke arah inovasi seluruh data, daripada perbedaan antara data lama dan baru. Pemerintah dapat memanfaatkan inovasi data untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik di semua tingkat. Ini akan membutuhkan sikap positif terhadap inovasi dan kemauan untuk menemukan sesuatu yang baru. Inovasi data dan teknologi adalah alat untuk mengatasi kesenjangan geografis, pendapatan dan pembangunan di Indonesia. Inovasi membutuhkan eksperimentasi: penting untuk membahas pro dan kontra dari inovasi data, tetapi yang sangat penting adalah mengambil tindakan dengan uji coba skala kecil di lapangan.
  • Data dapat menjadi instrumen baru untuk demokrasi: Dalam debat presiden pada tanggal 9 Juni 2014, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa demokrasi adalah mendengarkan suara warga negara melalui dialog. Pengembangan inovasi data merupakan kesempatan bagi pemerintah Indonesia untuk mendengarkan dan membuat keputusan kebijakan berdasarkan apa yang dikatakan dan diketahui oleh warga negara. Diskusi-diskusi pada konferensi Inovasi Data menunjukkan bahwa data yang besar dan inovasi data merupakan instrumen untuk memperkuat demokrasi. Inovasi data dan media sosial mampu menjembatani kesenjangan antar daerah, mengatasi tantangan geografis, memperpendek jarak antara pemerintah dan warga negara dan memberikan ruang untuk diskusi dan validasi.

Data tidak secara otomatis teterjemahkan ke dalam proses pembuatan kebijakan yang lebih baik, tetapi ketika diinterpretasikan, dianalisis dan dibahas secara kritis, data dapat membantu membuat keputusan yang lebih cerdas, lebih transparan dan lebih terbuka.