Dorong Pendidikan Inklusif, AIDRAN Dukung Kemendikbud Terbitkan Pedoman Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa Disabilitas

Panduan ini sebagai acuan yang bersifat umum dan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan kasus Pandemi Covid-19 dan panduan diharapkan dapat menjadi dasar dalam memastikan bahwa pembelajaran daring tidak melupakan hak dan kesempatan belajar bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus.

Dorong Pendidikan Inklusif, AIDRAN Dukung Kemendikbud Terbitkan Pedoman Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa Disabilitas

Foto oleh Marcus Aurelius dari Pexels

Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan ‘Panduan Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa dengan Disabilitas Fisik’ dan ‘Panduan Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa dengan Disabilitas Netra’. Panduan ini disiapkan oleh tim yang terdiri atas para peneliti dan pemerhati hak disabilitas dari Australia-Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), La Trobe University, dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya atas dukungan Knowledge Sector Initiative (KSI). 

“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kerja keras tim penulis dalam menyiapkan panduan ini,” kata Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam saat memberi pengantar atas terbitnya dua panduan tersebut.

‘Panduan Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa dengan Disabilitas Fisik’ membahas mengenai kondisi mahasiswa disabilitas saat proses pembelajaran di masa pandemi. Identifikasi dilakukan mulai dari jenis-jenis disabilitas fisik, hambatan, dan solusi yang mereka butuhkan.

Misalnya mahasiswa dengan hambatan neuromotor yang mempunyai hambatan dalam mencatat penjelasan dosen dan cepat lelah. Di dalam buku panduan terdapat solusi yang diberikan kepada mahasiswa ini yaitu melalui rekaman perkuliahan dosen yang bisa diakses dan dipelajari sendiri sesuai dengan kecepatan dan kapasitas mereka. Dosen juga diharapkan memberikan waktu tersendiri bagi mahasiswa dengan hambatan neuromotor untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan.

Panduan ini juga membantu para dosen merancang pembelajaran yang adaptif dan aksesibel bagi mahasiswa dengan disabilitas fisik. Ada dua konsep yang bisa digunakan oleh dosen. Pertama Universal Design Learning yaitu desain kurikulum yang meningkatkan fleksibilitas dan meminimalkan hambatan bagi peserta didik dengan penyandang disabilitas (Rose dan Mayer, 2002).

Kedua Differentiated Instructional Strategies atau teori pengajaran yang menyediakan beragam pendekatan instruksional dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik (Tomlison, 2001). Karakter tersebut seperti kesiapan dan kemampuan, bakat dan minat, profil belajar, dan pengetahuan terdahulu peserta didik.

Sedangkan untuk ‘Panduan Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa dengan Disabilitas Netra’ membahas mengenai hambatan dosen dan mahasiswa serta identifikasi akomodasi bagi disabilitas netra saat pembelajaran daring. Beberapa aplikasi dan fitur seperti Google Classroom, Voice Over, Magnification Gesture, dan lain sebagainya, menjadi rekomendasi agar dapat digunakan selama pembelajaran daring.

Panduan juga memberikan rekomendasi bagai dosen yang mengajar mahasiswa tunanetra seperti melakukan assessment kebutuhan dan akomodasi bagi mahasiswa disabilitas netra sebelum kelas dimulai. Dosen diharapkan menyediakan materi dan memastikan kelas yang aksesibel bagi mahasiswa dengan kesulitan penglihatan.

Rekomendasi yang ada dalam buku panduan termasuk saat melaksanakan ujian atau evaluasi belajar secara daring, bimbingan skripsi atau tugas akhir, hingga pelaksanaan ujian skripsi dan magang. Kuncinya adalah pada pemberian akomodasi dan pendampingan yang aksesibel bagi mahasiswa tuna netra.

‘Panduan Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa dengan Disabilitas Fisik’ dan ‘Panduan Pembelajaran Daring bagi Mahasiswa dengan Disabilitas Netra’ merupakan hasil kolaborasi antara lembaga penelitian sebagai pusat pengetahuan dan Pemerintah Indonesia sebagai pusat kebijakan. Kerja sama pusat pengetahuan dan pusat kebijakan menghasilkan kebijakan pembangunan berdasarkan penelitian, data, dan analisis yang lebih baik.

KSI memberikan dukungan kepada AIDRAN untuk memperluas dan memperkuat jaringannya dengan para peneliti, advokat dan pembuat kebijakan disabilitas serta masyarakat umum. Hal ini dilakukan agar pertukaran pengetahuan, interaksi dan kolaborasi yang efektif antara peneliti disabilitas, advokat dan pembuat kebijakan, tentang pendekatan yang efektif dan praktik yang baik untuk mempromosikan kebijakan dan praktik inklusif-disabilitas dapat berjalan dengan baik. Harapannya, kegiatan dan kajian yang dilakukan dapat mempengaruhi kebijakan dan praktik inklusi disabilitas di universitas.

Dalam menanggapi pandemi saat ini, AIDRAN juga memberikan informasi melalui media sosial mereka untuk mendistribusikan informasi tentang Covid-19 untuk berkontribusi pada jaringan, masyarakat umum dan khususnya para penyandang disabilitas.