Peneliti Bisa Mengomunikasikan Sains dengan Beragam Cara

Peneliti dan lembaga penelitian perlu menyampaikan hasil penelitiannya ke publik agar dapat diakses sehingga memberi manfaat bagi masyarakat. Beragam cara bisa dilakukan untuk mengomunikasikan sains untuk bisa menjembatani dunia sains dengan masyarakat yang selama ini kurang terhubung.

Peneliti Bisa Mengomunikasikan Sains dengan Beragam Cara

Peneliti dan lembaga penelitian perlu menyampaikan hasil penelitiannya ke publik agar dapat diakses sehingga memberi manfaat bagi masyarakat. Beragam cara bisa dilakukan untuk mengomunikasikan sains untuk bisa menjembatani dunia sains dengan masyarakat yang selama ini kurang terhubung.

Pentingnya membuka akses publik pada hasil-hasil penelitian itu mengemuka dalam diskusi bertema “Communicate Your Science” yang diadakan Knowledge Sector Indonesia (KSI) bekerja sama dengan University of Queensland dan The Conversation pada Selasa (19/11) di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Acara ini merupakan seri KSIxChange, yakni wadah pertukaran pengetahuan yang dihadiri oleh akademisi muda, lembaga riset, universitas, lembaga pembangunan dan media. Dalam diskusi ini, empat pembicara yang hadir membagikan pengalaman lembaga masing-masing dalam usahanya mengomunikasikan hasil penelitian maupun sains ke publik.

Leonardus K Nugraha dari Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) menuturkan, CIPG adalah lembaga riset yang fokus menjembatani riset dengan kebijakan. Oleh karena itu, penyebaran hasil-hasil penelitian yang dilakukan CIPG menjadi penting supaya bisa dipahami para pembuat kebijakan sehingga bisa mendorong adanya kebijakan berbasis riset. Meskipun demikian, CIPG yang berdiri pada 2010 baru benar-benar fokus memaksimalkan publikasi hasil risetnya pada 2015. “Mulai 2015, CIPG memutuskan untuk memiliki satu divisi yang bertugas mengelola penyebaran hasil riset. Divisi komunikasi ini baru ada setelah kami melihat perlunya diseminasi hasil riset. Para peneliti kurang memiliki kapasitas untuk melakukan hal itu, sehingga memang dirasa butuh orang yang bisa melakukan itu,” terangnya.

Ia lantas menceritakan pengalaman CIPG terkait hasil risetnya yang viral karena diakses dan diunduh banyak orang. Riset yang viral itu adalah riset tentang buzzer politik. Hasil riset itu sebenarnya sudah dipublikasikan pada 2017. Waktu itu, sejumlah media nasional telah memberitakan adanya peluncuran hasil riset tersebut namun kurang memaparkan hasilnya secara mendalam. Pada 2018, media asing seperti The Guardian dari Inggris juga mengutip hasil riset itu dalam salah satu beritanya. Namun, jumlah orang yang mengakses tetap stagnan. Situasi berubah ketika salah satu pengguna Twitter membagikan tautan riset yang dipublikasikan di akademia.edu.

Cuitan di Twitter itu dibagikan ulang oleh banyak akun lain hingga menjadi viral sehingga publikasi hasil riset tentang buzzer itu pun tiba-tiba diunduh oleh banyak orang. Momentum panasnya situasi di seputar pemilihan umum pada 2019 diduga menjadi penyebab tingginya minat banyak orang untuk mengetahui hasil penelitian tersebut. “Setelah kami telusuri, pemilik akun itu ternyata adalah jurnalis yang memang mencari penelitian soal buzzer, dan kebetulan penelitian kami saat itu adalah satu-satunya penelitian soal buzzer,” tambah Leonardus.

Viralnya hasil riset itu membuat media nasional kerap menjadikan hasil riset CIPG sebagai rujukan. Para peneliti CIPG pun kerap diundang untuk menjadi narasumber talkshow di media. Selain itu, para peneliti juga semakin aktif untuk menulis di media. Semua itu membuat hasil riset CIPG menjadi kian mudah diakses oleh publik.

Berdasarkan pengalaman itu, Leonardus menyebut setidaknya ada lima hal yang perlu diperhatikan ketika mempublikasikan hasil riset. Lima hal itu adalah menetapkan target atau audiens publikasi yang jelas, menyusun format publikasi yang menarik, memiliki strategi publikasi digital, memilih momentum publikasi, serta berkolaborasi dengan individu maupun lembaga lain yang punya kesamaan tujuan. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa yang harus diutamakan dalam adalah kualitas riset yang hendak dipublikasikan.

Mudah dipahami

Susan Rowland, Deputy Associate Dean Academic, Faculty of Science, The University of Queensland, menuturkan bahwa secara umum kebanyakan orang tidak suka membaca teks panjang. Oleh karena itu, setiap upaya mempublikasikan hasil riset ke publik perlu mempertimbangkan format penyampaian yang mudah dipahami. Sayangnya, kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif jarang diajarkan kepada peneliti. Padahal untuk menjadi ilmuwan yang baik, diperlukan kemampuan komunikasi yang baik pula.

Terkait dengan itu, The University of Queensland mengembangkan website CLIPS (Communication Learning in Practice for Scientists) yang bisa diakses oleh mahasiswa maupun peneliti di https://www.clips.edu.au/. Website ini dibuat untuk membantu para peneliti muda dalam mengomunikasikan penelitiannya melalui beragam metode presentasi. “Banyak yang tidak suka membaca teks panjang, jadi yang kami lakukan adalah dengan mengemas hasil penelitian, bisa dalam format interview, ada juga video dan lain-lain,” jelasnya.

Dasapta Erwin Irawan, staf pengajar di Institut Teknologi Bandung mengungkapkan bahwa selama ini para dosen dan peneliti di perguruan tinggi jarang mempublikasikan hasil riset yang bisa diakses publik karena lebih fokus ke urusan peringkat dan kenaikan pangkat. Di sisi lain, keinginan dosen menampilkan hasil riset dengan cara berbeda sering dihalangi aturan soal pengukuran kinerja. “Misalnya kalau sudah diunggah secara online, katanya enggak bisa lagi dimasukkan ke jurnal yang akan menentukan pangkat, akhirnya para dosen maju mundur mau share secara digital,” katanya.

Walaupun ada kendala semacam itu, Dasapta menilai bahwa menyebarkan hasil penelitian ke publik sangatlah penting, terlebih jika hasil penelitian itu dibutuhkan orang banyak. Dasapta yang fokus meneliti bidang geologi pun berupaya membagikan hasil penelitian di bidang keilmuannya dengan berbagai cara. “Kalau di musik kan ada musisi indie, ada juga penerbitan indie, kok peneliti tidak bisa begitu? Kita harus juga menyebarkan itu dengan cara apapun. Saya juga pakai laptop biasa, bisa juga lewat Twitter, atau juga bisa di Youtube. Silakan bagikan hasil penelitian di Youtube, pasti ada nonton walau tidak banyak, jadi silakan menggunakan berbagai tools untuk menyebarkan ilmu ke masyarakat,” tandasnya.

Prodita Sabarini dari The Conversation juga membagikan pengalamannya saat memproduksi podcast tentang sains bersama tim The Conversation Indonesia. Selama ini, The Conversation lebih fokus membagikan tulisan tentang suatu hasil penelitian dengan bahasa yang populer supaya mudah dipahami publik. Namun, cara itu pun dipandang belum bisa menjangkau sebagian masyarakat di Indonesia yang belum terhubung dengan jaringan internet. Oleh karena itu, diputuskan untuk membuat feature audio sepanjang tujuh menit bekerja sama dengan Kantor Berita radio 68 H (KBR).

Antara Maret – September 2018, kerja sama tersebut menghasilkan 47 episode podcast dengan tema “Sains Sekitar Kita” yang diunggah di website The Conversation. Setiap episode membahas tema berbeda, mulai dari manfaat nyamuk Wolbhacia dalam melenyapkan demam berdarah hingga kekuatan musik metal yang jarang diketahui. Sampai saat ini, seri podcast yang diunggah di website itu mendapat 65.000 view. Selain itu, seri podcast tersebut juga diputar di radio jaringan KBR di 24 kota sehingga diperkirakan bisa menjangkau 11 juta pendengar.

Menurut Prodita, ketika memutuskan membuat podcast, pihaknya tidak yakin ada yang mau mendengar podcast bertema sains. Namun, setelah podcast itu diputar, banyak orang yang berminat dan bahkan menanyakan seri-seri podcast “sains Sekitar Kita” lainnya. Oleh karena itu, pihaknya kini tengah menyiapkan podcast sains seri kedua.

Mengomunikasikan Sains

Keempat pembicara sepakat bahwa poin utama dalam mengomunikasikan sains adalah menentukan target audiens. Sehingga langkah selanjutnya adalah menentukan tata bahasa yang kita gunakan agar dapat diterima oleh target audiens. Kemudian, menentukan medium apa saja yang paling diminati oleh target audiens. Langkah ini membuat hasil riset lebih mudah diterima oleh publik yang tidak mempunyai latar belakang sains.

Di era digital saat ini, penting juga untuk mengetahui dan mengamati hook berita atau berita yang saat itu sedang hangat dibahas. Dengan itu, hasil penelitian mendapatkan atensi lebih dan menjadi referensi informasi di khalayak luas.

Mengomunikasikan sains adalah jembatan dalam mengatasi tantangan sektor pengetahuan seperti menghubungkan peneliti dengan pembuat kebijakan, maupun meningkatkan permintaan atas hasil riset itu sendiri. Dalam mengatasi tantangan tersebut, KSI akan terus bekerjasama dengan media dalam mengomunikasikan hasil kerja mitra strategis dan lembaga riset kebijakan (PRI) serta berbagi pengetahuan mengenai komunikasi sains.