Metamorfosis Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Metamorfosis AIPI bukan hanya terjadi di internal organisasi. “AIPI Baru” mempengaruhi juga keseluruhan visi, misi, prinsip dan budaya kerja, nilai-nilai akademik, serta kesadaran baru untuk menjadi agen penjaga serta pelopor scientific temper (perangai ilmiah) dalam pengembangan peradaban bangsa. Perkembangan AIPI beserta DIPI dan ALMI yang semuanya mulai tumbuh mekar, memerlukan sikap yang arif bijaksana, tanpa sedikit pun konflik kepentingan dari semua pemangku kepentingan.

Sebelum Seperempat Abad AIPI

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), sejak berdiri tahun 1990 sampai usianya ke-18, belum mengalami banyak perubahan. Khalayak tidak mengenal AIPI. Bahkan umumnya mengira seperti akademi yang memiliki kampus dan mahasiswa. Selain kiprahnya kurang didengar, peran dan fungsinya yang mulia tak pernah dipahami pihak luar. Dalam fungsinya AIPI dapat memberikan saran, pendapat atau pernyataan ilmiah yang ditujukan kepada  pemerintah maupun masyarakat umum, sekaligus mempromosikan budaya ilmiah unggul (science of excellence). Para anggotanya, yang dikelompokkan dalam lima komisi yakni Kedokteran, Sosial, Ilmu Pengetahuan Dasar, Rekayasa dan Budaya adalah ilmuwan terkemuka di bidangnya. Jumlah anggotanya sekitar 60-an orang, tapi mayoritas umurnya di atas 60 tahun. Bagi kalangan yang pesimistik, AIPI diplesetkan menjadi “Asosiasi Ilmuwan Pikun Indonesia”. Dukungan staf administrasi masih kurang memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya .

Dana operasional AIPI hanya berasal dari pemerintah (APBN), belum ada sumber lainnya. Selain terbatas, jumlahnya pun hanya cukup untuk aktivitas rutin AIPI, seperti honorarium, rapat dan diskusi. Keterbatasan dana itu dipercaya sebagai penyebab produk AIPI belum didengar masyarakat. Seiring waktu dana pemerintah yang disalurkan ke AIPI selama lima tahun terakhir meningkat 150 persen.

Ternyata dana bukan faktor utama. Reorientasi mindset seluruh staf administrasi, anggota AIPI dan unsur pimpinan menjadi faktor penentu perubahan AIPI. Motivasi yang kuat untuk berbuat lebih baik, kepedulian terhadap lingkungan, terbuka terhadap interaksi dengan dunia luar, dan bersedia berbenah diri turut mengubah mindset.

Langkah Kuda Tak Terduga

Titik balik perubahan AIPI diawali pada 2008. Bersama LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), penerbit Komunitas Bambu, dan Yayasan Wallacea, AIPI mengambil inisiatif menyelenggarakan Simposium Internasional “Surat Alfred Russell Wallace dari Ternate” di Makassar. Suatu langkah kuda yang sangat berani. Sebab selama ini dunia menganggap Darwin sebagai penemu teori evolusi dan melupakan kontribusinya Wallace yang amat penting. Melalui suratnya, Wallace meletakkan dasar evolusi ‘survival of the fittest’  berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama delapan tahun di Nusantara. Awalnya berbagai pihak termasuk beberapa anggota AIPI menentang inisiatif yang melawan arus persepsi ilmuwan dunia tersebut. Bahkan ada kalangan yang mengkhawatirkan AIPI akan dikucilkan dari masyarakat ilmiah. Simposium ini selain sebagai peringatan 150 tahun dikirimnya ‘Surat Wallace dari Ternate’ juga  setahun mendahului peringatan sejenis atas terbitnya buku Charles DarwinThe Origin of Species di berbagai negara. Momentum ini seolah-olah menegaskan kepada dunia bahwa selain teori evolusi itu lahir di bumi Indonesia, juga meyakinkan bahwa A. R. Wallace salah satu pelopornya.

Pembaharuan MoU tentang kerja sama sains antara Amerika Serikat dan Indonesia pada awal 2010 membuka akses yang lebih luas bagi AIPI. Pada tahun itu, AIPI bersama Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) menyelenggarakan Seminar Nasional di Serpong yang dihadiri sekitar 700 orang dan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dubes Amerika H.E. David Hume juga hadir membacakan pesan Presiden Obama. Peristiwa ini menunjukkan komitmen kedua kepala negara di bidang kerja sama sains dan pentingnya diplomasi sains guna menjembatani komunikasi antara dunia Barat dan Islam agar tidak terjadi benturan peradaban antara keduanya seperti pemikiran Samuel P. Huntington  dalam bukunya  ‘The Clash of Civilisation’.

Konsepsi Program Strategis

Pada pertengahan 2010, Dr. Bruce Alberts yang berhalangan sakit dan batal hadir di acara Seminar Nasional di Serpong, akhirnya dapat berkunjung ke Indonesia. Utusan Khusus Presiden Obama di Bidang Sains tersebut disambut hangat di sekolah-sekolah, universitas, lembaga riset, dan organisasi pemerintah. AIPI mengajak Dr. Bruce Alberts, ditemani Dubes AS H.E. David Hume dan Dr. Jason Rao, untuk berkunjung ke Ternate, tempat tinggal A.R. Wallace selama empat tahun.

Sesuai riwayatnya, Wallace terkena malaria ketika tinggal di Ternate. Di tengah perjuangannya antara hidup dan mati, ia sadar jika tidak tahan (fit) maka ia akan matiDari kondisi inilah kemudian muncul gagasan “survival of the fittest”. Ide brilian tersebut kemudian ia tuangkan dalam sepucuk surat kepada Charles Darwin.  Salinan surat tersebut ia kirimkan juga kepada saudaranya di Inggris.

Di Ternate inilah Bruce berkesempatan berdialog dengan sekitar 30 ilmuwan muda berprestasi dari berbagai pusat riset di Indonesia. Dari dialog tersebut, Bruce menawarkan ada empat program strategis yang jadi prioritas AIPI. Keempat program tersebut meliputi pembentukan Indonesian Science Fund (ISF); pembentukan wadah bagi ilmuwan muda Indonesia berprestasi; penulisan joint report antara US NAS (National Academy of Sciences) dan AIPI; dan penguatan peran serta fungsi AIPI layaknya akademi lain di dunia.

Dana non-APBN mulai mengalir sejak 2011 bersamaan dengan diselenggarakannya simposium tahunan Indonesian-American Kavli Frontier of Sciences (KFoS), penyusunan consensus report NAS-AIPI (Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia), white paper ISF (Indonesian Science Fund)dan kegiatan internasional lainnya. Kegiatan tersebut juga membuka akses AIPI ke dunia luar. Berbagai bantuan non-APBN tersebut umumnya dalam bentuk ‘in kind’  karena AIPI belum mampu mengelola sendiri. Alasannya klasik, belum ada SOP (standard operating procedures), sistem keuangan berstandar internasional dan staf kompeten yang mampu menanganinya.

Kiprah Konsisten Mempersiapkan Ilmuwan Muda

Simposium pertama Indonesian-American Kavli Frontier of Sciences diselenggarakan pada 2011 di Bogor, lalu berturut-turut diselenggarakan di Solo, Bali, Medan, Makassar, dan Malang. Simposium ini mengundang dan menyeleksi para ilmuwan muda berusia di bawah 45 tahun yang telah bergelar doktor, memiliki publikasi di jurnal internasional, serta menekuni topik penelitian garda depan. Setiap simposium diikuti 30 orang dari AS dan 40 orang dari Indonesia. Dalam dua simposium KFoS terakhir, Australia juga mengirimkan 10 ilmuwan terbaiknya untuk berpartisipasi.

Simposium tersebut merupakan wadah interaksi ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dari tiga negara. Selama empat hari mereka saling berdiskusi multi disiplin dalam kerangka liberal arts. Para alumni KFoS ini umumnya menjadi lebih terbuka dalam bersikap dan berpikir, lebih menghargai ilmuwan dari disiplin lain serta lebih mudah bekerja secara tim atau grup.

Pada November 2012, White Paper ISF diperkenalkan ke publik melalui seminar umum di Museum Nasional, Jakarta. Simposium ini menghadirkan pembicara tamu Dr. Bruce Alberts, Dr. Harold Varmus (peraih Hadiah Nobel), dan Prof. Emil Salim. Setahun berikutnya, Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia, dokumen laporan bersama NAS-AIPI, juga rampung, dan diluncurkan pada Januari 2014 di Jakarta.

Belajar dari tiga KFoS pertama beserta kelompok alumninya, maka digagaslah suatu  kegiatan lanjutan bagi ilmuwan muda,. Mereka adalah doktor di bidangnya, sarat prestasi, masih aktif di dunia akademis dan riset serta berpotensi sebagai pemimpin masa depan sains (future leaders). Atas alasan ini, pada 2014 pimpinan AIPI menggagas penyusunan “SAINS45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan. Penyusunan dokumen inspirasi sains Indonesia ini melibatkan 17 orang anggota studi komite terdiri dari 12 alumni KFoS sebagai penulis dan lima anggota AIPI sebagai penasihat.

Seperempat Abad AIPI

Memperingati seperempat abad berdirinya AIPI, sepanjang 2015 diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak pihak, baik individu maupun masyarakat ilmuwan secara luas. Kegiatan tersebut dibagi tiga kelompok berdasarkan jadwal kegiatan per kuartal. Puncak perubahan terjadi di kuartal kedua pada Mei 2015 dengan lahirnya Indonesian Science Fund (ISF) atau selanjutnya disebut Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI).

Peluncuran DIPI tersebut juga menunjukkan bahwa sebelumnya telah disepakati pengalokasian sebagian dana Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk DIPI oleh empat menteri (Keuangan, Ristek Dikti, Dikbud, dan Agama) sebagai anggota Dewan Penyantun LPDP.

Selain itu dengan rampungnya penyusunan dokumen SAINS45, ilmuwan muda juga mendapat tempat di bawah naungan AIPI. Mereka secara resmi tergabung dalam ALMI (Akademi Ilmuwan Muda Indonesia).

The moment of truth tiba pada 13 Oktober 2015. Sidang Paripurna AIPI akhirnya menyetujui perubahan AD/ART AIPI yang memuat keberadaan DIPI dan ALMI. Perubahan ini disahkan oleh pemerintah dengan terbitnya Keppres No. 9/2016 pada 29 Februari 2016. DIPI pun secara resmi beroperasi persis pada keesokan harinya, 1 Maret 2016, dan mengundang para ilmuwan Indonesia mengajukan proposal risetnya. Disepakati juga bahwa SAINS45 menjadi referensi resmi untuk penulisan proposal hibah DIPI.

Kehadiran DIPI dan ALMI yang bernaung di bawah AIPI membawa konsekuensi beban kerja ektra bagi AIPI. Kedua anak organisasi ini masih rentan sehingga perlu pembinaan, bimbingan dan pengawasan dari AIPI, agar nantinya dapat tumbuh harmonis bersama sesuai misinya. Pihak di luar AIPI, baik nasional maupun internasional, khususnya lembaga hibah untuk sains semakin tertarik menyalurkan dananya langsung kepada AIPI tanpa perantara pihak ketiga.

Aktualisasi Momentum Perubahan

Dengan perkembangan ini, maka prioritas pertama ialah melengkapi SOP untuk menampung dana hibah berstandar internasional dan SOP lain yang relevan. Sejak awal, KSI (Knowledge Sector Initiative) sangat tanggap dan aktif berperan dalam proses perubahan AIPI. Didahului dengan pre-workshop lima bulan sebelumnya, pada November 2015 diselenggarakan workshopPenguatan AIPI yang diikuti oleh pimpinan dan semua staf AIPI. Workshop tersebut menyetujui agenda prioritas AIPI ke depan meliputi Statement, Consensus Report, White Paper, Conference Proceedings, Convening Activity, Public Outreach, danForesight (future study).

Tahun 2015 juga menandai kemandirian AIPI dalam pengelolaan keuangan. KSI sepakat untuk mendanai “AIPI Change Management” yang akan memperkuat “AIPI Baru” menjalankan agendanya. Selain penyempurnaan SOP, dirumuskan juga prinsip pedoman dan nilai-nilai AIPI, yang semua itu tertuang dalam satu Manual AIPI.

Metamorfosis AIPI bukan hanya terjadi di internal organisasi. “AIPI Baru” mempengaruhi juga keseluruhan visi, misi, prinsip dan budaya kerja, nilai-nilai akademik, serta kesadaran baru untuk menjadi agen penjaga serta pelopor scientific temper (perangai ilmiah) dalam pengembangan peradaban bangsa. Perkembangan AIPI beserta DIPI dan ALMI yang semuanya mulai tumbuh mekar, memerlukan sikap yang arif bijaksana, tanpa sedikit pun konflik kepentingan dari semua pemangku kepentingan. Tanpa prasyarat tersebut, semua dalam risiko bahaya tak terperikan.

 

Budhi M. Suyitno

Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia