Think Policy Society, Upaya Anak Muda untuk Meningkatkan Kualitas Kebijakan Publik di Indonesia

Dukungan Knowledge Sector Initiative untuk terciptanya produk-produk pengetahuan dan pembelajaran kebijakan publik dari Think Policy yang digunakan baik dalam rangkaian kelas Bootcamp, Online Academy, dan Handbook

Think Policy Society, Upaya Anak Muda untuk Meningkatkan Kualitas Kebijakan Publik di Indonesia

Setelah menggelar berbagai kegiatan kelas dan diskusi sejak awal tahun 2019, Think Policy Society resmi diperkenalkan kepada publik pada hari Minggu (28/6) secara daring. Soft launching Think Policy Society dihadiri oleh Chatib Basri mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Yanuar Nugroho mantan Deputi II Kantor Staf Presiden sekaligus pembina Think Policy Society, dan Andhyta Firselly Utami, peneliti ekonomi lingkungan sekaligus penggagas Think Policy Society.

Pendirian Think Policy Society diharapkan bisa memberi nafas baru dalam proses pengambilan kebijakan publik di Indonesia dengan mengajak anak muda khususnya yang sudah bekerja di pemerintahan, sektor swasta, maupun organisasi masyarakat sipil untuk berjejaring, meningkatkan keterampilan, serta berdaya dalam mendorong kebijakan publik yang lebih berbasis bukti dan empati. Tingginya ketertarikan anak muda terhadap proses pembuatan kebijakan terlihat dari antusiasme pada acara soft launching Think Policy Society, tercatat 1.100 orang menyaksikan webinar.

Andhyta Firselly Utami, Penggagas Think Policy Society menuturkan soft launching Think Policy Society dilakukan untuk memperkenalkan komunitas ini secara luas kepada masyarakat. “Sejak didirikan di awal tahun 2019, Think Policy telah menyelenggarakan 2 rangkaian kelas kebijakan publik, 6 kali diskusi lintas sektor, serta 4 webinar yang diikuti peserta dari kalangan mahasiswa dan profesional muda. Hari ini kami memperkenalkan secara resmi berbagai kegiatan dan produk yang sudah dimiliki oleh Think Policy Society ini kepada publik. Mulai dari rangkaian kelas “Think Policy Bootcamp” untuk melatih keterampilan analisis dan problem solving di sektor kebijakan publik, diskusi “Ruang Tengah” yang menjadi ruang aman pencarian solusi lintas sektor terhadap berbagai isu polemik, sampai modul Online Academy berupa video dan handbook yang dapat diakses secara luas dan gratis di website thinkpolicy.id.”

“Kami mengerti bahwa bagi masyarakat pada umumnya, proses pembuatan kebijakan publik seperti kotak hitam yang sulit dimengerti, dan seringkali membuat pesimis bahwa perubahan bisa terjadi. Pada saat bersamaan, kami melihat besarnya keinginan teman-teman profesional muda yang sudah berprofesi terkait kebijakan publik untuk belajar dan berjejaring. Think Policy Society mencoba menghadirkan berbagai kegiatan yang dapat bermanfaat bagi kedua kelompok ini untuk memperbaiki proses pembuatan kebijakan publik di Indonesia.” tutur Andhyta.

Chatib Basri dalam Keynote Speech-nya menuturkan bahwa inovasi dan perubahan hanya mungkin dilakukan oleh para pemuda. Beliau juga menyampaikan optimisme dan potensi inisiatif Think Policy Society. “Dalam masa pandemi seperti ini, begitu banyak ketidakpastian dan berbagai tantangan lintas sektor untuk mendesain solusi yang tepat. Dibandingkan dengan generasi ‘mapan’ yang cenderung bermain aman dan tidak berani ambil resiko, generasi muda lah justru yang bisa membawa inovasi dan perubahan. Saya sangat senang dan mendukung inisiatif seperti Think Policy Society, di mana anak muda diajak untuk membedah kebijakan publik secara langsung, sehingga mereka bisa berkontribusi melalui perannya masing-masing.”

Yanuar Nugroho dalam pidatonya menuturkan bahwa kepedulian anak muda dalam kebijakan publik itu bukan hanya baik, tapi wajib. ”Kebijakan publik kadang terasa jauh dan hanya urusan segelintir orang, tapi sebenarnya menyentuh langsung jantung kehidupan masyarakat, apalagi anak muda. Dengan semakin kompleksnya masalah yang kita hadapi, berbagai permasalahan publik tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah saja tapi butuh kontribusi berbagai pihak. Sehingga sebaiknya pemuda jangan hanya menjadi penduduk (citizen), tapi penduduk yang aktif terlibat (engaged citizen).”

Think Policy Society digerakkan sepenuhnya oleh pemuda yang juga merupakan relawan, beberapa di antaranya Anugerah Erlaut, Hana Almira Priatna, dan Ketty Lie bersama Andhyta F. Utami sebagai co-founders. Dalam melaksanakan berbagai kegiatannya, Think Policy Society juga berkolaborasi dengan berbagai organisasi, seperti Universitas Atma Jaya yang mendukung pelaksanaan Bootcamp Vol. 2 pada awal tahun ini, dan Knowledge Sector Initiative yang mendukung terciptanya produk-produk pengetahuan dan pembelajaran kebijakan publik dari Think Policy yang digunakan baik dalam rangkaian kelas Bootcamp, Online Academy, dan Handbook. Organisasi lain seperti Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Unilever, BAPPENAS, CSIS, dan British Council turut bekerja sama sebagai mentor dalam rangkaian kelas Bootcamp, yang menghasilkan rekomendasi kebijakan di 7 sektor yang berbeda-beda. Acara soft-launching Think Policy Society ini dihadiri oleh 1100 peserta secara virtual.